Info Sekolah
Senin, 27 Sep 2021
  • Selamat datang dihalaman website SMK PGRI KARISMA BANGSA

Simbol dan Makna dalam Susunan Acara Pasca Nikah (Bantayan) Adat Sunda

Diterbitkan :

Simbol dan Makna

dalam Susunan Acara Pasca Nikah (Bantayan) Adat Sunda

di Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor

(Sebagai Bahan Ajar di SMA/SMK)

 

Puji Dwi Lestari, S. Pd.

Guru Sekolah Menengah Kejuruan PGRI Karisma Bangsa, Bogor, Jawa Barat

pujilestari08@guru.smk.belajar.id

 

Abstrak

Penelitian ini berjudul “Simbol dan Makna dalam Susunan Acara Pasca Nikah (Bantayan) Adat Sunda di Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan simbol dan makna yang ada di dalam susunan acara pasca nikah (bantayan) di Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian ini ditemukan 38 simbol yang dimaknai maksud yang dikandungnya. Dari simbol tersebut terdapat 7 dari bahan untuk nyawér, 2 dari alat nyawér, 2 dari proses nyawér; 2 dari bahan dan alat acara menginjak telur; 3 ada dari bahan dan alat, serta 5 dari perilaku selama acara membakar dan mematahkan harupat; 3 dari bahan dan alat untuk acara membakar kapas dalam coét; 2 dari perilaku selama acara buka pintu; serta 7 dari bahan dan alat acara huap lingkung. Hasil dari penelitian ini, selain menjadi tahu mengenai simbol dan makna yang terkandung dalam susunan acara bantayan, juga bisa dijadikan bahan ajar materi bahasan Tradisi di SMK kelas 12 sesuai dengan KIKD mata pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda.

 

Kata kunci: simbol, tradisi, bantayan

 

PENDAHULUAN

            Kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal),  diartikan sebagai hal-hal yang ada kaitannya dengan budi dan akal manusia, segala daya dan kegiatan manusia dalam mengolah dan merubah alam. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari bahasa Latin colere yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga menjadi mengolah tanah atau bertanam. Kata culture juga terkadang sering diartikan menjadi kultur dalam bahasa Indonesia.

Mengenai pengertian dari kebudayaan tidak sedikit para ahli yang mengungkapkan pendapatnya. E.B Taylor (1871) menjelaskan bahwa “kebudayaan adalah seluruh kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan yang lain, serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat” (Widaghdo, dkk. 2010:19). Herskovits juga menjelaskan bahwa kebudayaan adalah suatu hal yang turun temurun dari satu generasi ke generasi lain, yang selanjutnya disebut superorganic (http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya). Menurut Sultan Takdir Alisyahbana kebudayaan itu manifestasi dari cara berfikir. Selanjutnya Dr. Moh Hatta menjelaskan bahwa kebudayaan itu ciptaan hidup dari suatu bangsa (Widaghdo, dkk, 2010:19).

Simbol sering disebut lambang yang dipakai untuk menunjuk suatu hal lainnya berdasarkan kesepakatan sekelompok orang atau masyarakat. Simbol atau lambang juga merupakan salah satu kategori tanda (sign). Menurut Peirce, bahwa tanda (sign) itu melingkupi ikon (icon), indeks (index), dan simbol (symbol) (Sobur, 2009: 157).

Dalam kehidupan masyarakat Sunda banyak digunakan kata-kata khusus yang berkaitan dengan suatu bidang, di antaranya saja bidang budaya. Contohnya budaya acara pasca nikah atau disebut juga bantayan. Susunan acara di setiap daerah sering berbeda. Susunan acara pasca nikah terdiri acara nyawér (sawer pengantin), melepaskan merpati, menginjak telur, membakar harupat (lidi pohon aren), buka pintu, dan huap lingkung. Tentu saja dalam tahapan itu mengandung simbol dan makna.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Melly G. Tan dalam Silalahi (2010: 29) menjelaskan bahwa penelitian yang menggunakan metode deskriptif mempunya tujuan menggambarkan secara jelas mengenai sifat-sifat suatu individu, keadaan, tanda-tanda atau satu kelompok. Metode ini digunakan jika ada pengetahuan atau informasi mengenai gejala sosial yang bisa diteliti. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, video shoot, kamera digital, dan hp recorder.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan symbol dan makna yang terkandung dalam susunan acara pasca nikah (bantayan) adat Sunda di Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor. Kemudian hasil penelitian ini akan dijadikan alternatif bahan ajar materi Bahasan Tradisi di SMA/SMK/MA kelas 12. Penelitian in diharapkan dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan budaya, juga dengan adanya penelitian ini penulis berharap masyarakat bisa mengetahui simbol dan makna dalam susunan acara pasca nikah (bantayan) adat Sunda khususnya di Kecamatan Jonggol.

 

PEMBAHASAN

            Susunan acara pasca nikah yaitu acara-acara setelah akad nikah dilaksanakan. Susunan acara pasca nikah yang ada di Kecamatan Jonggol terdiri dari nyawér, nincak endog (menginjak telur), meuleum jeung miteskeun harupat (membakar dan mematahkan lidi aren) tapi terkadang ada yang diganti jadi membakar kapas dalam coét, buka pintu, dan huap lingkung.

  1. Nyawér

Menurut Muchtar jeung Umbara (1994: 127), acara pasca nikah yang disebut sawér, berkaitan dengan dua hal, yaitu:

  1. Pada waktunya nyawér, juru sawer sering menebarkan isi bokor yang berisi beras, kunyit yang diiris tipis, uang receh, dan sebagainya
  2. Nyawér biasanya dilaksanakan di panyawéran (tempat jatuhnya air dari atap). Sepertinya ini yang menyebabkan disebut nyawér karena dilakukannya di panyawéran.

Untuk mempermudah pemahaman mengenai symbol dan makna dalam acara nyawér, maka akan ditampilkan dalam bentuk tabel.

Tabel 1

Simbol dan Makna Bahan Nyawér

No

Bahan Simbol Makna
1 2 3 3
1 Kunyit

 

 

· Warna emas;

· Kemuliaan hidup;

· Kesenangan hidup;

· Jauh dari penyakit;

· Semoga bercahaya dalam kehidupan.

· Kehidupan dua pengantin setelah berumah tangga, agar ada dalam kebahagiaan, baik berupa materi ataupun kesehatan;

· Kehidupannya jauh dari masalah, kesulitan, dan selamnya ada dalam kebahagiaan.

2 Beras · kebahagiaan;

· Rejeki;

· Sumber kehidupan nanti setelah berumah tangga.

· Dalam hidup berumah tangga, dua pengantin rejekinya lancar, selamanya bahagia dan berkecukupan secara materi;

· Beras sebagai sumber kehidupan setelah berumah tangga. Jadi kebutuhan pangannya tercukupi,  malah lebih agar bisa memberi pada orang lain.

3

 

Permen · Ramah;

· Santu;

· Hal manis dalam kehidupan.

· Sifat  dua sejoli dan  anak-anaknya kelak akan baik,

· Ramah dan santun pada orang lain;

· Keluarganya akan disenangi orang lain, tidak dibenci tetangga dan yang lain.

4 Uang receh · Hal duniawi;

· Kekayaan;

· Kesenangan hidup.

· Harta dan sejekinya semoga lancar, hingga bisa memberi pada orang lain;

· Semoga bahagia dalam masalah duniawi

5 Bunga-bunga · Keharuman dalam kehidupan setelah berumah tangga. · Hidupnya  rukun dan bahagia selama berumahtangga, keluarganya jauh dari musibah dan bahagia.
6 Seureuh lepit (daun sirih yang dilipat-lipat) · Aturan hubungan antara istri dan suami;

· Harus rukun antara istri dan suami.

· Nasihan untuk pengantin agar tidak berhubungan badan saat istri sedang haid;

· Hubungan sebagai suami dan istri harus tetap mesra sampai ajal menjemput.

7 Kanjut kundang (tas kecil yang isinya uang receh atau benda-benda kecil lainnya) · Jangan hidup boros · Istri harus bisa hidup irit, jangan boros, dan bisa mengatur keuangan keluarga.

 

  1. Nincak Endog (Menginjak Telur)

Tempat untuk melaksanakan acara nincak endog sama dengan acara nyawér, jadi pengantin tidak pindah tempat dari tempat acara nyawér tadi. Di bawah ini akan dijelaskan simbol dan makna yang terkandung dalam acara nincak endog yang mencakup bahan, alat, dan perilaku dalam acara nincak endog.

Tabel 2

Simbol dan Makna Bahan dan Alat Nincak Endog

No Bahan/Alat Simbol Makna
1 2 3 4
1

 

 

 

 

 

Telur

 

 

 

 

 

·   Tujuan hidup bersama, keutuhan;

·   Kesucian pengantin wanita;

·   Awal mula kehidupan

 

·   Mencapai tujuan hidup bersama-sama, utamanya dalam masalah keturunan;

·   Kesucian pengantin wanita disimbolkan dengan telur yang bulat. Pada waktunya, telur yang bulat (kesucian pengantin wanita) akan dipecahkan oleh pengantin pria, untuk mencukupi kebutuhan rohani dan meneruskan keturunan;

·   Awalnya kehidupan manusia di dunia. Manusia juga awalnya berasal dari hal-hal menjijikan yaitu sperma dan sel telur

2

 

Kendi yang berisi air ·   Alat untuk mendinginkan (menyelesaikan) keadaan atau masalah;

·   Lambang ketentraman, lawan dari napsu

·   Jadi dalam menyelesaikan masalah jangan dibarengi oleh nafsu atau amarah, harus diselesaikan dengan pikiran yang dingin;

·   Lambang ketentraman, lawan dari napsu hidup akan tentram jika tidak menuruti hawa nafsu;

·   Pengantin harus repok. Jika ada masalah dengan orang rumah, harus ada yang mengalah, harus bisa mendinginkan suasana, jika begitu selamanya akan terasa tentram dan rukun selamanya.

 

Tabel 3

Simbol dan Makna Perilaku Nincak Endog

No Perilaku Simbol Makna
1 2 3 4
1 Memecahkan telur ·   Membuka dan mencapai keingingan serta tujuan hidup bersama. ·   Harus ada kerja sama dalam membuka dan mencapai keinginan serta tujuan hidup bersama. Suami dan istri harus selangkah dan sepemikiran.
2

 

 

 

 

 

Kaki pengantin pria dibasuh oleh pengantin wanita

 

·   Bakti istri pada suami;

·   Hal-hal yang kotor harus dibersihkan hingga bersih.

·   Istri harus patuh pada suami, hingga mencuci dan mengelap kaki suami yang kotor dan bau amis pun harus mau, karena sudah menjadi kewajiban;

·   Jika mempunyai kesalahan, segera selesaikan dan jangan diulangi lagi.

3

 

 

Memecahkan kendi

 

·   Menyelesaikan masalah secara  berdua;

·   Jangan mengungkit kembali masalah yang sudah selesai.

·   Jika ada masalah, selesaikan dulu berdua, jangan memberitahu dulu pada orang lain. Sebab keburukan dalam rumah tangga jangan sampai diketahui orang lain;

·   Jangan mengungkit kembali masalah yang sudah selesai.

 

 

 

  1. Membakar dan Mematahkan Harupat

Setelah memecahkan kendi, masih di tempat yang sama dengan acara sebelumnya, pengantin melaksanakan acara membakar dan mematahkan harupat. Karena jaman sekarang harupat sukar ditemukan, terkadang ada yang mengganti harupat menggunakan lidi. Berikut tabel yang menjabarkan simbol dan makna dalam acara ini.

Tabel 4

Simbol dan Makna Bahan dan Alat Membakar dan Mematahkan Harupat

No Bahan/Alat Simbol Makna
1 2 3 4
1 7 buah harupat

 

 

·   Tujuh sifat jelek manusia;

·   Jangan getas harupateun.

·   Tujuh sifat jelek manusia dalam istilah Sunda, yaitu napsu, sirik, pidik, jail, kaniaya, lirén, irén panastrén;

·   Peringatan agar pengantin jangan cepat marah, gampang dikompori orang lain, dan pasrah tanpa usaha. Jangan cepat menyerah

2 Api dari korek api atau lilin ·   Saran;

·   Untuk menyinari.

 

·   Saran untuk pengantin dalam menjalankan kehidupan berumahtangga;

·   Untuk menyinari hati dua pengantin dalam kehidupan berumahtangga.

3

 

Kendi berisi air

 

 

·  Alat untuk mendinginkan (menyelesaikan) keadaan atau masalah;

·  Lambang ketentraman, untuk melawan nafsu.

 

·   Jadi dalam menyelesaikan masalah harus jangan dibarengi dengan nafsu atau amarah, harus diselesaikan dengan kepala dingin,

·  Lambang ketentraman, untuk melawan nafsu.

Hidup akan terasa damai jika tidak menuruti hawa nafsu;

·     Pengantin harus akur. Jika berselisih dengan teman serumah, salah satunya harus mengalah. Harus bisa mendinginkan suasana agar selamanya akan terasa damai.

 

Tabel 5

Simbol dan Makna Perilaku Membakar dan Mematahkan Harupat

No Perilaku Simbol Makna
1 2 3 4
1

 

Membakar dan mematahkan

harupat

·   Menyelesaikan masalah;

·   Membuang/menghilangkan sifat jelek yang ada dalam diri

·   Jika ada masalah, harus segera diselesaikan;

·   Sifat jelek dalam diri manusia yang disimbolkan denga harupat, harus dihilangkan, jangan dipelihara dalam diri.

 

 

 

2 Harupat digilas hingga padam ·   Perilaku saat pasangan sedang emosi ·   Jika salah satu sedang emosi, pasangannya harus bisa merayu, jangan malah ikut emosi.

 

3 Harupat dimasukkan ke dalam kendi yang berisi air ·   Cara menyelesaikan masalah. ·   Masalah dalam kehidupan rumah tangga harus diselesaikan bersama-sama, tanpa amarah, tapi dengan kepala dingin.
4 Membuang/ melempar

harupat

·   Cara menghadapi masalah;

·   Hilangkan sifat jelek.

·   Jangan diungkit kembali kesalahan dan masalah di masa lalu;

·   Buang/tinggalkan segala sifat jelek yang ada dalam diri.

5

 

 

Menggoyang-goyangkeun

kendi lalu dipecahkan

·   Kehidupan setelah berumahtangga ke depannya ·   Hidup pengantin ke depannya agar adem ayem dan jauh dari amsalah serta kesulitan;

·   Harus ada kerja sama antara suami dan istri dalam menyelesaikan masalah rumah tangga.

 

  1. Membakar Kapas dalam Coét

Di beberapa tempat, ada yang mengganti acara membakar dan mematahkan harupat  dengan membakar kapas dalam coét. Dalam wawancara disebutkan tidak ada alasan khusus. Hal ini disesuaikan dengan kesanggupan yang punya acara dan MC. Digantinya dengan acara membakar kapas dalam coét itu tidak mengapa karena memiliki makna yang hampir sama dengan acara membakar dan mematahkan harupat. Berikut penjabaran simbol dan makna dalam acara membakar kapas dalam coét.

 

Tabel 6

Simbol dan Makna Alat dan Bahan dalam Membakar Kapas dalam Coét

No Alat/Bahan Simbol Makna
1 2 3 4
1 Kapas ·  Sifat istri seleah berumahtangga

 

· Ada pribahasa dalam bahasa Sunda “ulah ngajul béntang ku asiwung”, yang artinya jangan menginginkan hal di luar batas kemampuan atau hal yang tidak mungkin. Jadi maksudnya keinginan istri jangan melebihi kemampuan suami.
2

 

 

 

Api dari korek api atau lilin ·  Solusi;

·  Untuk menerangi.

 

 

·   Api dari korek api atau lilin biasanya untuk menerangi dalam kegelapan. Jadi maksudnya siloka dari solusi untuk pengantin dalam menjalankan kehidupan berumahtangga.

·   Untuk menerangi hari dua pengantin dalam kehidupan berumahtangga. Agar diberi kelancaran dalam kehidupan serta dalam menyelesaikan masalah

3 Coét  yang terbuat dari tanah dan mutu yang terbuat dari kayu ·  Masalah;

 

· Coét adalah tempat untuk membuat sambel yang diibaratkan sebagai masalah.

 

  1. Buka Pintu

Setelah selesai acara sawer, menginjak telur, membakar dan mematahkan harupat, lalu dilanjutkan dengan acara buka pintu. Dari halaman rumah atau panyawéran (dari tempat acara sebelumnya), pengantin pindah ke ambang pintu rumah. Dalam pelaksanaan acara buka pintu terdapat simbol dan makna yang dijelaskan dalam bentuk tabel di bawah ini.

 

Tabel 7

Simbol dan Makna dalam Prilaku Acara Buka Pintu

No Perilaku Simbol Makna
1 2 3 4
1 Mengucapkan salam ·   Keislaman ·   Mengandung pribahasa nasihat keislaman, bahwa dalam berumahtangga juga harus berdasarkan pada aturan agama dan jangan lepas dari agama.
2 Membaca syahadat ·   Nasihat kaislaman;

·   Suami dan istri harus setia dan selalu bersama

·   Mengandung nasihat keislaman, dalam kehidupan ke depannya harus berdasarkan pada aturan agama dan memegang teguh pada agama;

·   Ada juga yang menyebutkan bahwa membaca syahadat itu mengandung arti bahwa suami istri harus saadat, harus bersama dalam keadaan pahit dan manis, harus saling membantu.

 

  1. Huap lingkung

Setelah acara buka pintu, lalu pengantin masuk ke kamar pengantin di dalam rumah, keduanya duduk di ranjang pengantin. Tapi ada juga yang langsung ke pelaminan, agar luas dan bisa dilihat oleh orang lain. Dalam acara huap lingkung terdapat simbol dan makna selama acara berlangsung, di antaranya:

Tabel 8

Simbol dan Makna Bahan & Perilaku Huap Lingkung

No Bahan/

Perilaku

Simbol Makna
1 2 3 4
1 Nasi tumpeng

 

·   Kehidupan ·   Dalam nasi tumpeng biasanya banyak lauk dan sayurnya, diibaratkan segala hal yang ada di dunia, dai kesulitan dan kesenangan di dunia.
2 Pengantin disuapi oleh mertua ·   Sudah diterima jadi keluarga ·   Sudah diterima jadi keluarga, tidak dianggap orang asing lagi;

·   Baik pengantin atau orangtua pengantin sudah dianggap jadi orang tua dan anak kandung, sudah bukan orang asing lagi.

3 Pengantin disuapi oleh orangtuanya

 

·   Kasih sayang ·   Suap kasih saying dari orang tua ke anak, sebab nanti anaknya (pengantin) sudha harus berbakti pada suami atau istrinya;

·   Melepaskan anak untuk berbakti pada keluarga barunya.

 

4

 

 

 

Tarik menarik ayam bakakak ·   Kerja sama ·   Dalam menyelesaikan masalah dan kesulitan dalam kehidupan harus secara bersama-sama;

·   Kerja sama dalam berumahtangga. Jika sudah menjadi keluarga tidak boleh egois, tapi sudah ada pendamping hidup yang harus diperhatikan.

 

5 Menggigit paha bakakak bersama-sama. ·   Kasih sayang ·   Dalam kehidupan setelah menjadi keluarga, pengantin harus mesra dan harmonis sampai ajal menjemput.
6 Cuci tangan dan lap tangan bersama-sama. ·   Kekompakan ·   Kekompakan, kerja sama dalam melakukan kegiatan dalam kehidupan berumahtangga ke depannya.

 

Bahan Ajar

Hasil analisis simbol dan makna dalam acara pasca nikah ini bisa dijadikan bahan ajar untuk materi Bahasan Tradisi di SMA/SMK/MA kelas XII sesuai dengan KIKD mata pelajaran Bahasa Sunda SMA/K/MA. Dalam materi bahasan tradisi dijelaskan mengenai daur kehidupan manusia yang dimulai dari kehidupan dalam kandungan, melahirkan, menikah, hingga kematian. Acara menikah merupakan salah satu dari daur kehidupan yang ada di tradisi Sunda. Jadi dalam pembelajaran bahasan tradisi siswa dituntut paham pada hal-hal yang terjadi dalam tradisi daur kehidupan  manusia, salah satunya adalah acara menikah.

 

PENUTUP

Dari hasil analisis symbol dan makna yang terkandung dalam acara pasca nikah (bantayan) adat Sunda di Kecamatan Jonggol terdapat 38 simbol yang dianalisis maknanya. Dari 38 simbol, terdapat 7 dari bahan untuk nyawér, 2 dari alat nyawér, 2 dari proses nyawér; 2 dari bahan dan alat acara menginjak telur; 3 ada dari bahan dan alat, serta 5 dari perilaku selama acara membakar dan mematahkan harupat; 3 dari bahan dan alat untuk acara membakar kapas dalam coét; 2 dari perilaku selama acara buka pintu; serta 7 dari bahan dan alat acara huap lingkung. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap bahan, alat serta prilaku dalam semua susunan acara pasca nikah memiliki simbol yang mengandung makna.

Pemahaman symbol dan makna ini juga dapat dijadikan bahan ajar materi Bahasan Traadisi kelas XII sesuai dengan KIKD mata pelajaran Bahasa Sunda SMA/SMK/MA. Cakupan penelitian ini memberikan kontribusi untuk perkembangan apresiasi budaya dengan memberikan wawasan serta pemahaman kepada peserta didik mengenai simbol dan makna yang terkandung dalam acara pasca nikah (bantayan).

 

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Yulia. 2008. Simbol jeung Ma’na nu Nyampak dina Tradisi Nikah di Desa Cigugur Girang Kacamatan Parongpong Kabupaten Bandung. Skripsi Sarjana pada FPBS UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Danadibrata, R. A. 2006. Kamus Basa Sunda. Bandung: PT. Kiblat Buku Utama.

Danandjaja, James. 2007. Folklor Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982. Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Jawa Barat. Jakarta: Depdikbud.

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Jakarta.

Ekadjati, Edi S. 1984. Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya. Jakarta: PT. Girimukti Pasaka

—. 2005. Kebudayaan Sunda. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Gustini, Ambu Heny. 2010. Upacara Adat Pengantin Sunda. [Online]. Tersedia: http://menjawabdenganhati.wordpress.com/2010/07/15/upacara-adat-pengantin-sunda/ [3 April 2013].

Koentjaraningrat. 2000. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia.

Lembaga Basa jeung Sastra Sunda. 2007. Kamus Umum Basa Sunda. Bandung: CV. Geger Sunten.

Muchtar, Uton & Ki Umbara. 1987. Modana. Bandung: PT Mangle Panglipur Lara.

Soelaeman, M. Munandar. 2010. Ilmu Budaya Dasar. Bandung: PT. Refiko Aditama.

Widaghdo, Djoko, dkk. 2010. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.

Widyosiswoyo, Supartono. 2009. Ilmu Budaya Dasar. Bogor: Ghalia Indonesia.

Wikipedia. 2013. Budaya. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya. [15 Januari 2013].

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar

Puji Dwi Lestari

Tulisan Lainnya

Oleh : arifin ifin

PLANG SMK PGRI KARISMA BANGSA